Indonesia sebagai produsen minyak dan gas bumi terbesar di Asia Tenggara menghadapi tantangan besar dalam mengurangi emisi karbon dari sektor migas. Sektor ini menyumbang sebagian signifikan emisi gas rumah kaca nasional, namun inovasi teknologi dan kebijakan pemerintah membuka jalan menuju net zero emission 2060.
Pentingnya Pengurangan Emisi di Sektor Migas
Sektor migas bertanggung jawab atas sekitar 43% kebutuhan energi primer Indonesia, termasuk 17% untuk kelistrikan. Emisi karbon dari operasi seperti flaring, venting, dan kebocoran metana menjadi sumber utama polusi. Pengurangan emisi karbon di sektor migas tidak hanya mendukung komitmen NDC (Nationally Determined Contribution) sebesar 314 juta ton CO2 pada 2030, tapi juga meningkatkan efisiensi produksi dan daya saing global.
Pemerintah menargetkan penurunan intensitas emisi migas lebih dari 50% pada 2030, setara reduksi 60% emisi operasional. Hal ini krusial karena migas tetap dominan hingga transisi energi selesai, sambil mendorong penggunaan energi terbarukan.
Empat Strategi Utama Pemerintah
Kementerian ESDM menyusun empat strategi pengurangan emisi karbon di subsektor migas. Pertama, penerapan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) untuk tangkap, manfaatkan, dan simpan CO2 sambil tingkatkan produksi. Strategi kedua, batasi routine flaring dengan konversi gas terbakar menjadi energi produktif. Ketiga, optimalkan gas bumi untuk rumah tangga dan transportasi guna kurangi pemborosan. Keempat, turunkan emisi metana melalui database GRK akurat dan pedoman pengukuran.
Strategi ini telah diuji di lapangan seperti Gundih, Sukowati, dan Tangguh, dengan potensi simpan 48 juta ton CO2.
Teknologi Kunci: CCUS dan CCS
CCUS menjadi andalan pengurangan emisi karbon di sektor migas. Teknologi ini tangkap CO2 dari operasi, lalu injeksi ke reservoir untuk penyimpanan permanen atau enhanced oil recovery (EOR). Pertamina Hulu Indonesia (PHI) capai reduksi 222,87 ribu ton CO2eq pada 2024, naik 32,88% dari 2023, melalui 33 program termasuk CCUS.
Proyek Gundih CCUS target operasi 2024/2025, serap 3 juta tCO2 dalam 10 tahun; Tangguh CCUS mulai 2026, serap 25 juta tCO2. Inovasi seperti CO2-EOR tingkatkan produksi migas sambil kurangi emisi, seperti uji coba Pertamina di Sukowati.
Inisiatif Perusahaan Migas Lokal
Pertamina pimpin upaya dengan sinergi Jepang untuk injeksi CO2, dan PHI Kalimantan reduksi emisi signifikan via efisiensi energi. Industri migas kembangkan CCS untuk emisi nol netto 2050, didukung kebijakan investasi. Di level operasional, pemeliharaan rutin kurangi kebocoran metana dan optimasi peralatan hemat energi.
Perusahaan seperti PT Tracon Industri, penyedia layanan plant migas, dukung melalui maintenance CO2 removal plant dan fasilitas produksi, yang tingkatkan efisiensi dan kurangi emisi operasional.
| Teknologi | Potensi Reduksi | Contoh Proyek Indonesia |
| CCUS | 48 juta ton CO2 | Gundih, Sukowati, Tangguh |
| Anti-Flaring | Kurangi pembakaran gas | Optimalisasi gas bumi |
| Pengurangan Metana | Database GRK akurat | Pedoman mitigasi |
| EOR CO2 | Tingkatkan produksi 36 BSCF | Sukowati huff-puff |
Peran Layanan Industri seperti Tracon
PT Tracon Industri, anak usaha Rekayasa Industri, spesialisasi operation & maintenance (O&M) fasilitas migas sejak 2001. Layanan pre-commissioning, commissioning, dan plant turnaround mereka optimalkan peralatan, kurangi konsumsi energi, dan emisi karbon. Pengalaman di Merbau Field, Subang CO2 Removal, dan Tangguh LNG tunjukkan kontribusi langsung ke efisiensi sektor migas.
Tracon terapkan Reliability Centered Maintenance (RCM) untuk operasi aman, hemat energi, ramah lingkungan, selaras target net zero. Partisipasi di Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) IAFMI tekankan komitmen keberlanjutan.
Tantangan dan Solusi Masa Depan
Tantangan utama termasuk biaya tinggi CCUS, infrastruktur terbatas, dan kebutuhan regulasi. Solusi: insentif pajak, kemitraan internasional, dan RUEN revisi untuk bauran energi rendah karbon. Digitalisasi monitoring emisi dan AI prediksi kebocoran percepat reduksi.
Pada 2026, proyek CCUS masif seperti Sakakemang dan Abadi CCS janjikan lompatan besar. Kolaborasi operator migas dengan penyedia layanan seperti Tracon percepat transisi.
Langkah Praktis untuk Operator Migas
- Adopsi CCUS di lapangan existing untuk dual benefit produksi-emisi.
- Terapkan zero routine flaring dengan teknologi flare gas recovery.
- Bangun database metana untuk identifikasi akurat.
- Partner dengan spesialis maintenance untuk efisiensi plant.
Dengan strategi ini, sektor migas Indonesia bisa capai target sambil pertahankan kontribusi ekonomi. Kunjungi tracon.co.id untuk solusi O&M berkelanjutan.

